Tempat Wisata | Tempat Menginap | Tempat Makan | Rental Mobil | Peta Semarang
Semarang / Obyek Wisata / Kawasan Menarik / Kawasan Pecinan

KAWASAN PECINAN - Menelusuri Jejak Budaya Tionghoa di Pragota

Pecinan Pecinan Pecinan Pecinan

Lihat foto lainnya (15 foto)

KAWASAN PECINAN

Alamat: Kranggan, Semarang, Indonesia
Koordinat GPS: S6°58'28.6" E110°25'35" (lihat peta)

Kawasan Pecinan merupakan potongan jejak budaya Tionghoa di bumi nusantara yang masih tersisa dan dihidupi hingga kini. Menelusuri gang demi gang di Pecinan Semarang akan membuat Anda melihat rangkaian jejak itu secara utuh.

KAWASAN PECINAN
Menelusuri Jejak Budaya Tionghoa di Pragota

Semarang merupakan salah satu kota di Indonesia yang menjadi tempat melting pot beragam budaya di masa lalu dan jejaknya masih tergurat jelas hingga kini. Peninggalan budaya Eropa dapat disaksikan di Kota Lama melalui bentuk bangunannya yang khas. Di kawasan Pekojan-Kauman terdapat warisan budaya Timur Tengah dan Gujarat. Sedangkan warisan budaya Cina sangat kental terasa di kawasan Pecinan yang terletak di Kelurahan Kranggan. Keberadaan belasan klenteng baik klenteng marga maupun klenteng umum yang tersebar di gang-gang yang ada di Kranggan semakin mempertegas atmosfer budaya Cina.

Pada awal kedatangan ke Semarang, masyarakat Tionghoa tidak tinggal di kawasan Pecinan yang sekarang melainkan bermukim di daerah Gedung Batu, Simongan. Tempat yang terletak di tepi Sungai Semarang itu merupakan lokasi strategis karena berada di teluk yang menjadi bandar besar dengan nama Pragota. Pemberontakan Cina terhadap pendudukan Belanda yang terjadi di Batavia pada tahun 1740 rupanya merembet hingga Semarang. Orang Cina yang selamat melarikan diri ke arah timur, hingga tiba di Semarang dan kembali melakukan perlawanan namun berhasil ditumpas Belanda. Sejak saat itu, semua warga Tionghoa yang berada di Semarang dipindahkan ke tempat yang dikenal dengan nama Pecinan. Hal itu bertujuan memudahkan pengawasan oleh pihak Belanda.

Kepindahan warga Tionghoa dari Gedung Batu ke Pecinan ternyata berpengaruh terhadap kegiatan peribadatan mereka. Untuk pergi ke Klenteng Agung Sam Poo Kong mereka harus berjalan kaki sejauh 4 km dan membayar pajak yang besar kepada Johanes, tuan tanah Yahudi yang menguasai Gedung Batu. Berawal dari hal tersebut maka warga Tionghoa mulai mendirikan klenteng di kawasan Pecinan sebagai tempat beribadah. Salah satu klenteng yang bersejarah adalah Klenteng Tay Kak Sie yang terletak di Gang Lombok. Klenteng yang dibangun pada tahun 1746 ini tidak hanya menjadi tempat beribadah melainkan juga tempat bersosialisasi etnis Tionghoa.

Berbeda dengan Klenteng Sam Poo Kong yang telah mengalami banyak perombakan dan bersolek, Klenteng Tay Kak Sie yang menjadi klenteng induk di Pecinan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Daun pintu yang tebal dan kokoh dengan beragam ukiran dewa masih terpasang dengan sempurna. Jika klenteng biasanya didominasi warna merah, khusus untuk Klenteng Tay Kak Sie warna birulah yang mendominasi atap dan pintu. Namun saat YogYES masuk ke dalam klenteng, warna merah tetap mendominasi altar utama. Aroma hio, asap lilin, dan minyak pun tercium dengan jelas. Siapapun boleh masuk dan memotret di dalam Klenteng Tay Kak Sie sepanjang tidak mengganggu orang yang sedang berdoa.

Usai mengeksplorasi klenteng, Anda dapat menikmati sepiring Lumpia Gang Lombok yang sangat nikmat di dekat klenteng. Sebuah miniatur kapal milik Laksamana Cheng Ho berdiri dengan gagah di depan klenteng.Di sebelah kiri klenteng terdapat aula yang biasa digunakan sebagai tempat beraktivitas warga. Saat YogYES tiba, sedang ada ujian kenaikan tingkat olahraga beladiri wushu dengan peserta anak-anak. Menyaksikan anak-anak dengan pakaian khas pemain wushu dan memainkan jurus-jurus tertentu membuat tubuh tak ingin beranjak pergi.

Tak jauh dari Gang Lombok terdapat Gang Warung yang tiap Jumat hingga Minggu menjelma menjadi pusat wisata kuliner dengan nama Pasar Semawis. Pasar yang hanya buka sejak pukul 17.00 - 23.00 WIB ini berupa lapak-lapak non permanen yang menjual makanan seperti bakcang, lumpia, aneka bubur, sate babi, nasi goreng, soto, makanan laut, bakmi jawa dan aneka jajanan. Selain itu juga terdapat penjual aksesori, pakaian, hingga jasa ramal menggunakan kartu. Menjelang ujung gang dimana Pasar Semawis berakhir, pandangan YogYES tertumbuk pada sebuah kios lukisan Cina. Seorang pria paruh baya nampak sedang melukis menggunakan tinta bak berbahan dasar arang pinus yang dicampur dengan air. Tangannya terlihat gemulai menarikan kuas di atas kertas. 5 menit kemudian, 3 batang bambu telah tergambar dengan indah. “Ini melambangkan keberuntungan,” kata sang pelukis. YogYES pun tersenyum, bisa menyaksikan geliat kehidupan dan budaya Tionghoa di Kawasan Pecinan memang menjadi keberuntungan tersendiri.

Koordinat GPS: S6°58'28.6" E110°25'35" | S6.974611 E110.426389

Places (radius 1 km dari KAWASAN PECINAN)